Saturday, 30 July 2011

Rumah Seribu Cermin

Cerita Cerita Inspiratif Dan Motivasi
Di sebuah desa kecil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama “Rumah
Seribu Cermin.” Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa
itu dan melintasi “Rumah Seribu Cermin”. Ia tertarik pada rumah itu dan
memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.
Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu
depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi, ekornya bergerak-gerak secepat
mungkin.Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada
seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak
cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas
dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah
itu, ia berkata pada dirinya sendiri, “Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu
saat saya akan kembali mengunjunginya sesering mungkin.”
Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun,
anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya.
Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan
masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu
wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak
keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia
merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri,
“Tempat ini sungguh menakutkan, saya takkan pernah mau kembali ke sini
lagi.”
sumber: Cetivasi

Ketika Kami Tidak Cocok Lagi

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui, saya mulai merasa lelah dengan semua itu.


Alasan saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak
kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya
tentang cinta.


Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya. Saya menginginkan perceraian.


“Mengapa?” dia bertanya dengan terkejut.


“Saya lelah. Terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini,” jawab saya.


Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah. Seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiranmu?”


Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit, dan itu benar. Saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya. Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan untukmu. Jika kamu dapat menemukan jawabannya yang ada di dalam hati saya, mungkin saya akan mengubah pikiran.
Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung, dan kita berdua tahu, jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”


Dia berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”


Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-coretan tangannya, di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat, yang bertuliskan:


“Sayang, Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu. Tetapi izinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”


Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya mencoba untuk kuat melanjutkan membacanya kembali…


“Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor. Lalu saya harus memberikan jari-jari saya untuk memperbaiki programnya.


“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu.


“Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi: saya harus memberikan mata untuk mengarahkanmu.


“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘tamu’ kamu datang setiap bulannya: saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.


“Kamu senang diam di dalam rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi ‘aneh’. Lalu saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon dan cerita-cerita untuk menyembuhkan kebosananmu.


“Kamu selalu menatap komputer dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu. Saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu….


“Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari cara saya mencintaimu. Tapi saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati….”


Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali…


“Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana dengan susu segar dan roti kesukaanmu….”


Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang dulu sangat saya cintai. Dia begitu penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Saya tidak kuat lagi dan langsung memeluknya dan rebah di bahunya yang bidang sambil menangis…. (SM)


sumber: Motivasi Net

Sebuah Ciuman Selamat Tinggal

Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol
meja sehingga kopi tertumpah keatas catatan-catatannya.
“Waduhhh,memalukan sekali aku ini, diusia tua kok tambah ngaco..”
Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar kemudian, kami semua mulai
menceritakan Saat-saat yang paling menyakitkan dimasa lalu dulu.
Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisah
lain-lainnya.
“Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang paling tak
enak bagimu dulu.” Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa kecilnya.
“Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat pada
lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata
pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut
sampai ia menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga. Bukan cuma
cukup buat keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dan
saudara-saudara lainnya yang masih di rumah.”
Ia menatap kami dan berkata, “Ahhh, seandainya kalian sempat bertemu ayahku.
Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan memerangi lautan demi
mencari ikan. Asal kau dekat saja padanya, wuih, bau dia sudah mirip kayak
lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas
dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan hujannya sering
ia tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli berapapun ibuku mencucinya,
tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan.”
Suara Frank mulai merendah sedikit.
“Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil truk tua
yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua umurnya
daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang perjalanan.
Sejak beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah bawa truk
menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap semoga
bisa menghilang. Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem mendadak
dan lalu truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan
selalu berhenti di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri
mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan, dan
memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku dan memujiku sebagai anak yang
baik. Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur
dua-belas, dan ayahku menyandarkan diri kedepan dan menciumi aku selamat tinggal!”
Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, “Aku ingat hari ketika kuputuskan aku
sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal. Waktu kami
sampai kesekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar.
Ia mulai memiringkan badannya kearahku, tetapi aku mengangkat tangan dan berkata, ‘Jangan, ayah.’ Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah ayah tampaknya begitu terheran.
Aku bilang, ‘Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat tinggal.
Sebetulnya sudah terlalu tua bagi segala macam kecupan.’
Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai basah.
Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya,
pandangannya menerawang menembus kaca depan. ‘Kau benar,’ katanya.
‘Kau sudah jadi pemuda besar……seorang pria. Aku tak akan menciumimu
lagi.’”
Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua matanya,
ketika ia melanjutkan kisahnya. “Tidak lama setelah itu, ayah pergi melaut
dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian
besar armada kapal nelayan merapat dipelabuhan, tapi kapal ayah tidak.Ia punya keluarga besar yang harus diberi makan.
Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat dan
separuhnya lagi masih ada dilaut.Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba
menyelamatkan jala dan semua pengapung-pengapungnya.”
Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya.
Frank menyambung lagi, “Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa yang akan
kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi sebuah ciuman pada
pipiku….untuk merasakan wajah tuanya yang kasar……untuk mencium bau air
laut dan samudra padanya…..untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul
leherku. Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu. Kalau aku
seorang pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku
bahwa aku terlalu tua ‘tuk sebuah ciuman selamat tinggal.”
Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan cinta kasih
kita…..
oleh : Thomas Charles Clary

Sumber

Wednesday, 20 July 2011

Surat Cinta yang Terbakar

Oleh JEMIE SIMATUPANG
Cerita Cerita Inspiratif dan Motivasi
YANG MANA HIDUP ini sebenarnya sederhana saja. Simpel. Yang mana seperti ditulis Pramoedya A. Toer satu kali dalam bukunya—yang saya pinjam dari seorang mahasiswa yang mana kalau nanti ada kesempatan saya sebutkan namanya—bahwa manusialah yang akhirnya membuatnya menjadi kompleks. Ribet. Dan akhirnya manusia kesusahan menjalani hidupnya—bahkan yang mana dia telah bertumpuk harta benda juga kekuasaan.

“Bahkan hidup itu lebih susah dari sekedar selembar surat cinta,” kata saya, “Surat cinta yang akan saya ceritakan nanti.”
Kalau saya ya tidak. Yang mana saya seorang tukang becak, maka saya jalani saja hidup sebagai tukang becak. Tak ada yang saya risaukan. Yang mana ada banyak penumpang, saya dan isteri, yang mana nanti saya sebutkan namanya, makan lebih enak dibanding kalau tak ada yang menumpang becak saya. Bahkan, kalau tak ada, kami sudah biasa berpuasa.
“Hidup itu hanya numpang ngombe atau kalau tidak suka hanya numpang naik becak yang mana kalau tak suka juga: ya sekedar numpang ketawa,” gitulah falsafah hidup saya.
Oya, sebelum saya menulis lebih berpanjang lebar, perlu juga saya informasikan di sini nama saya Kasmin. Orang lebih mengenal saya sebagai Bang Kasmin Becak. Benar, saya, Kasmin memang tukang becak. Tukang becak sejak lajangnya, sejak lagi masih berpacaran dengan isteri saya sekarang.
Ingat isteri, ingat lagi dengan surat cinta yang mana tadi saya janjikan akan diceritakan. Karena belum pernah mengirimkan surat cinta kepadanya, yang mana karena memang saya tak bisa menulis sebelumnya—saya diajarkan membaca, menulis, dan berhitung yang mana orang suka singkat menjadi “calistung” oleh mahasiswa yang meminjamkan saya buku Pram tadi, yang mana ia bernama: Sania, yang mana saya sangat berterimakasih kepadanya. Sekarang saya ingin sekali menuliskan surat saya kepada isteri saya yang tercinta itu, yang walaupun kami sudah sama-sama menjelang lima puluh, tapi tak luntur cinta saya kepadanya, malah bertambah-tambah seperti bertambahnya uban yang bertabur di kepala kami masing-masing.
Butet, isteri saya yang tercinta, inilah surat cinta saya yang pertama.
Yang mana teruntuk
Kekasihku, pujaan hatiku,
Butet
Di gubuk cinta kita,
Salam kasih-sayang selalu,
Butet,
Yang mana ini adalah surat cinta pertama saya untuk kau. Semoga tak kecil hatimu, walaupun sudah lebih dari 30 tahun kita jalani rumah tangga baru sekaranglah abang bisa tulis surat kepadamu.
Saya teringat waktu pertama kali kita berjumpa. Saya lupa tanggal bahkan harinya. Waktu itu kau suka menumpang di atas becak saya manakala pulang dari kerja. Kau dulu kerja di pabrik biskuit yang dekat amplas itu kan?
Ya, pasti saya tak salah ingat.
Yang mana waktu itu saya suka tolak ongkos yang butet berikan. Hm, bukan karena tak butuh uang, karena yang mana saya menaruh hati padamu. Tapi yang mana saya tak berani katakan kepadamu, entah apa namanya, tapi tiap kali saya mau ngomong yang serius, soal mengutarakan isi hati saya, yang mana dada saya jadi berdebar kencang, lidah saya kelu, dan saya tak bisa bilang apa-apa, selain: “sampai jumpa besok, tet!” lalu saya berbalik ke tempat saya mangkal meninggalkanmu di depan rumahmu.
Butet,
Yang mana akhirnya kita menikah juga. Saya tak sempat bilang cinta waktu itu, yang mana mungkin karena kita sama-sama tahu saja. Akhirnya saya putuskan untuk kirim utusan ke rumahmu untuk lamarkan dirimu pada orang tuamu. Tak terlalu ribet. “Kalau udah saling cinta, mau apa lagi,” kata orang tuamu waktu itu sebagai diceritakan utusan yang saya kirim kepada saya.
Kita menikah. Dan sekarang sudah lebih dari 30 tahun. Hm, tak apa kita tak punya anak, dan saya tak cari gara-gara juga untuk menikah dengan orang lain. Tak lain karena memang saya sangat-sangat cinta kepada Butet. Terlebih karena kesetiaanmu menjalani hidup dengan saya yang tukang becak dan sampai sekarang belum bisa memberikan rumah yang nyaman kepadamu, selain gubuk yang kita buat bersama di pinggir Sungai Deli ini—sungai yang dulu bisa dilayari oleh kapal sekarang tak lebih dari parit busuk yang penuh sampah saja.
Dan sama kita, sungai itu adalah rejeki juga, yang mana kita bisa mandi karenanya, menyuci pakaian, dan tentu juga buang hajat. Dan tentu saja kalau malam, kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama di dalam rumah sambil mendengarkan gemericik airnya.
Saya juga suka merasa bersalah, yang mana saya tak bisa memberikan kebahagian padamu, hidup kita kok ya begini-begini saja dari dulu, bahkan tambah parah ketika kau terpaksa keluar dari pabrik karena alasan krisis pada 1998 yang lalu—tanpa wang pesangon.
Yah, karenanya kau terpaksa kau ambil upahan nyuci pada tetangga-tetangga kita.
Butet,
Saya tak bisa bilang apa-apa, ketika kau pergi pagi-pagi ke pajak (pasar), sebelum lagi saya bangun, dan pulang-pulang membawa kepala ikan tongkol. Ketika saya mau berangkat membecak, nasi hangat + gulai kepala tongkol sudah ada. Ketika satu kali saya bilang, “Enak ini Tet, tiap hari awak kena tongkol!” kau bilang sambil tersenyum-senyum, “Syukurlah, Bang! Tongkol itulah yang gratis di pajak, tapi harus subuh-subuh mengambilnya, sebelum dibuang mereka untuk mengumpani babi,”
Saya hampir tersedak. Bukan karena tak selera. Tapi karena sampai segitulah pengorbananmu pada rumah tangga kita.
Tet,
Saya tak bisa berlama-lama, berpanjang-panjang dengan surat cinta saya yang pertama ini, walaupun mestinya masih banyak cerita yang bisa saya ceritakan—pengalaman kita bersama selama ini. Ada penumpang yang minta diantarkan ke pajak. Langganan saya.
Semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan.
Mesjid Raya Medan, 18 Juli 2011
Suamimu,
Bang Kasmin
Yang mana begitulah surat cinta saya yang pertama untuk isteri saya, yang mana telah saya kirimkan dengan meletakkannya dekat dapur di atas meja tempat meletakan bumbu-bumbu dapur—dekat tungku tempat ia menanak nasi. Yang mana setelah itu saya pun berangkat kerja, sebelum Butet pulang dari pajak, yang mana hari itu memang saya harus pergi cepat, karena ada langganan yang minta diantarkan ke pajak sambas, pagi-pagi benar.
Ketika menjelang maghrib yang mendung, saya pulang ke gubuk kami. Saya lihat isteri saya menyambut dengan senyum terindahnya. Saya menduga pastilah dia telah membaca surat cinta saya itu. Apalagi ketika masuk saya langsung disuguhin secangkir kopi.
“Minumlah, Bang! Biar hangat badanmu,” katanya.
“Makasih, Tet! Baik kali isteri awak ini,” kata saya.
“Alah abang ini!” katanya.
Butet lalu pergi ke dapur, menyiapkan segala sesuatu untuk makan malam kami. Saya menyusul, pura-pura membantu, membuka bungkus Indomie rasa kari ayam, dan mematah empat isinya, padahal niat saya mau bertanya, bagaimana tanggapannya terhadap surat cinta saya—dan apakah sudah ada balasannya.
“Tet, sudah kau baca surat cinta awak?”
“Surat cinta!?”
“Ya. Surat. Surat cinta awak untuk butet!”
“Kemasukan apanya kau, bang!” kata butet tak percaya, karena memang ngapain pulak saya harus mengirimkan surat cinta lagi, tokh mereka sudah menikah sejak—sebagai cerita-cerita dongeng—dulu kala.
“Sadar awak, Tet! Tadi suratnya saya letakkan di sini,” kata saya menunjukkan meja di sebelah tungku.
“Bah, itu surat cinta yang abang bilang?”
“Iya itulah! Cemana menurutmu?”
“Sudah awak bakar bang, bukan tak suka, tapi karena awak tak tahu itu surat cinta abang, saya bikin pemancing api untuk menjerang air tadi pagi,” kata isteri saya, sekarang dengan wajah agak cemas.
“Owalah, Tet!”
Saya tak marah. Tapi malah berpikir menyalahkan diri sendiri, yang mana kok saya surprise-suprisan. Surat itu sekarang sudah jadi abu. Yang mana isteri saya telah menyulutnya bersama kayu api. Yang mana juga karena ia sudah tak lagi pakai kompor minyak tanah, karena barang yang saya sebut terakhir sudah mahal harganya. Yang mana juga kami tak dapat kompor gas konversi dari kelurahan, yang mana kami tak terdaftar. Jadilah Butet tiap hari mengumpulkan kayu yang hanyut di Sungai Deli, menjemurnya, dan menggunakannya sebagai kayu bakar. Dan sebagai pemancing api, Butet memang biasa menggunakan kertas, dan pagi tadi, surat cinta saya itu lah yang dekat dari jangkauannya sebagai pengumpan api untuk menjerang air.
“Maaf ya, bang!” kata Butet sambil memasukan indomie ke kuali.
“Tak apa, Tet!”
Malam itu kami makan Indomie pake telor. Sedap. Apalagi setelah sebulan makan kepala tongkol melulu. Saya sampai tambuh nasi tiga kali. Kekenyangan. Setelah menghabiskan sebatang gudang garam merah sambil bercerita-cerita, kami pun siap-siap tidur di atas tikar di dalam kelambu.
“Tak marah abang kan soal surat tadi?” kata isteri saya sambil memeluk dari belakang.
“Tidaklah,” kata saya membalikkan badan dan kini membalas memeluknya. Yang mana juga mencium keningnya.
Kami kembali seperti muda lagi. Hujan rintik dari langit Medan. Air Sungai Deli semakin jelas terdengar—mengalir sampai ke Belawan. Dalam pelukannya, saya sadar kembali: Isteri saya memang tak butuh hidup yang rumit, cinta yang rumit, bahkan tak butuh surat cinta!
Hujan semakin deras di luar. Semoga Deli tak banjir. Biar keringat kami saja yang banjir malam itu. [*]

JEMIE SIMATUPANG
kompasianer asal Medan.



Sumber